R.I.P. Dendy

 

Kembali ke kabar para Cublukers tak tahu diuntung!

 

Foto satu-satunya dari Dendy yang ada dalam koleksi saya. Dendy adalah lelaki yang berdiri di ujung kanan, dengan wajah membelakangi kamera. Bahkan di foto inipun Dendy menunjukkan kemisteriusannya...

 

Telah berpulang ke Rahmatullah teman kita Lucky Abdul Jabbar (panggilan Dendy) di usianya yang ke-20 pada pagi hari tanggal 21 Mei 2008 di daerah Ciranjang, Cianjur, akibat kecelakaan di jalan raya...

Kabar itu sungguh mengejutkan, datang tak terduga tanpa didahului oleh firasat sebelumnya. Kabar yang semula disebarkan oleh SMS, segera menjalar ke seluruh Villa Adiprima dalam waktu cepat, sehingga tak lama kemudian rumah bapak Asep Guru (ayahanda Dendy) segera dipenuhi oleh orang yang turut menyampaikan belasungkawa. Jenazah Dendy sendiri baru datang pada pukul 11.00 yang dibawa oleh mobil ambulans dan diiringi oleh bapak RW Abah A'ung, juga ketua RT 1 Uda. Isak tangis langsung pecah terdengar begitu jenazah Dendy dikeluarkan dari mobil untuk kemudian dibaringkan di ruang tamu rumahnya. Tampak bercak-bercak darah masih menetes dari kepalanya yang tertutup kain. Yang paling terlihat shock melihat terbujur kakunya Dendy adalah ibu dan kakak perempuannya, sementara ayahandanya sendiri hanya tertunduk dengan linangan air mata. Berita itu begitu tiba-tiba, bahkan pak Asep masih memakai seragam pegawai negerinya...

Bagaimanakah peristiwa itu terjadi? Peristiwa apakah yang telah membuatnya meninggalkan dunia di usia yang masih sangat muda? Kita dengarkan penuturan Rakhmat yang saat itu berada tak jauh dari lokasi kejadian dan merupakan salah satu dari orang terakhir yang melihat Dendy dalam keadaan hidup :

"Waktu itu kita sedang dalam perjalanan ke Bandung dalam rangka melaksanakan tugas sebagai pengawas Pilkada Kabupaten Bandung Barat. Kita berangkat berenam menggunakan tiga motor. Saya berada paling depan membonceng anggota pengawas lainnya, sementara Dendy dengan membonceng pak Buyung berada di barisan paling belakang. Sebenarnya kita rada ragu-ragu membiarkan Dendy menyupiri motornya karena dia belum ahli-ahli amat dalam hal mengendarai, begitu juga pak Buyung, tapi setelah pada hari sebelumnya dia dengan selamat kembali pulang ke rumah, kita jadi rada tenang dengan kemampuannya..."

"Sewaktu kita melewati Ciranjang, kita masih beriringan dan saya masih sempat melihat kendaraannya dari kaca spion. Tapi ketika saya telah sampai ke tempat yang dituju di Cipatat, saya tak melihat kendaraannya datang. Ah, mungkin ada masalah kecil atau dia mengisi bensin dulu, begitu pikir saya, dan sayapun menunggu disana sembari ngopi bersama teman saya. Ketika lama tak kunjung datang, saya mulai khawatir terjadi apa-apa. Benar saja, tak lama kemudian Anand menelpon mengabarkan kabar mengejutkan tentang kecelakaan yang menimpa motor yang dikendarai Dendy dan pak Buyung. Saat itu Anand tidak menyebutkan detail ceritanya, dan sayapun bergegas menuju lokasi kejadian yang disebutkan oleh Anand. Disitu telah banyak orang berkerumun tapi tidak ada Dendy dan pak Buyung. Ternyata mereka telah dibawa ke rumah sakit, hanya terlihat genangan darah dan pecahan kaca. Saya langsung berfirasat sangat buruk, dan benar saja..."

Apakah sebenarnya yang telah terjadi?

Berdasarkan penuturan dari pak Buyung (yang berboncengan dengan Dendy, dan pada saat tulisan ini dibuat masih terlihat shock dengan near-death-experience yang dialaminya), saat itu motor yang ditumpangi oleh Dendy dan dirinya sedang berada di belakang dua buah mobil, dan mobil paling depan adalah bis. Kemudian mobil yang berada diantara bis dan motor Dendy berusaha menyalip bis di depannya, dan dengan mengandalkan mata dari supir mobil yang menyalip tersebut, Dendy segera membuntuti dalam jarak dekat dari belakang, tanpa dapat melihat atau memprediksikan apakah ada mobil lain dari arah yang belawanan.

Ternyata kemudian memang ada mobil lain (Kijang) yang melaju dari arah berlawanan dengan kecepatan sedang-sedang saja. Mobil di depan Dendy yang berusaha menyalip bis dan telah menancap gas secara tiba-tiba mengerem mobilnya untuk menghindari tabrakan. Usaha itu memang menghindarkan kejadian mengerikan antar kedua mobil yang mungkin terjadi, tapi akibatnya sungguh fatal bagi motor yang membuntuti dari belakang. Dendy tak dapat mengerem motornya dalam waktu yang cukup cepat, sehingga motor itupun menabrak bagian belakang mobil di depannya. Sebenarnya tabrakan itu taklah terlalu fatal, tapi posisi jatuhlah yang kemudian menentukan takdir yang berbeda antara Dendy dan pak Buyung. Dendy jatuh ke sebelah kanan (tengah jalan), sementara pak Buyung jatuh ke sebelah kirinya (pinggir jalan)...

Bahkan sebelum sempat tubuh Dendy menyentuh aspal, moncong mobil Kijang menabrak bagian kepalanya. Benturan itu begitu kerasnya, sehingga walaupun Dendy memakai helm, tapi tetap pada saat itu juga nyawanya terenggut secara seketika.

Pak Buyung sendiri hanya mengalami cedera ringan pada kakinya, dan masih sempat menelepon Anand untuk mengabarkan kabar duka tersebut. Dari Anandlah berita itu tersebar dengan cepat, dan sampai juga ke telinga Abah A'ung ketua RW kita. Segera Abah menghubungi Uda untuk kemudian meluncur ke rumah sakit Cianjur tempat Dendy dan pak Buyung dibawa.

Pada moment inilah terbuka kembali betapa bobroknya mental sebagian masyarakat kita. Petugas rumah sakit pada mulanya enggan menyerahkan jenazah Dendy yang sudah terbujur kaku pada pihak Abah yang menjemput dengan alasan-alasan absurd yang UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Barulah setelah Abah mengancam akan memperkarakan hal ini dan melaporkannya pada polisi, oknum pihak rumah sakit Cianjur tersebut bersedia menyerahkan jenazah Dendy pada Abah. Betapa! Bahkan pada saat seperti inipun masih ada orang yang menghambakan uang dan tega berbuat tidak patut seperti itu pada pihak yan berduka. Memang Abah berhasil mengatasinya semata karena beliau tahu hukum, tapi bagaimana bila hal yang sama menimpa orang biasa yang tak tahu apa-apa, orang miskin yang tak mempunyai uang?

Kembali ke rumah Dendy dimana jenazahnya disemayamkan. Tanpa menunggu waktu lama, jenazah Dendy segera dimandikan untuk kemudian dikafani secara layak oleh pak Amir. Para Cublukers mendapat instruksi untuk mengusung keranda yang mengangkut jenazah ke pemakaman yang letaknya berada di depan kompleks kita tercinta. Dan akhirnya, selepas dzuhur, rombongan yang berduka cita mengantarkan pemuda pendiam dan misterius tersebut ke peristirahatannya yang terakhir.

Selamat jalan sahabat, semoga engkau mendapat ketenangan di alam sana. Walaupun kita hanya mengenalmu dekat di saat-saat terakhir kehidupanmu, tapi kau akan tetap hidup di hati kita semua...

 

 

 

 



Free web hostingWeb hosting

 

We will return after this messages, dimanakah kau mendengar kata-kata ini?

Api adalah salah satu unsur kehidupan, katanya, selain dari air, udara dan tanah...
Selama berabad lampau api masih menjadi sesembahan umat manusia, dan sampai saat inipun beberapa bangsa masih mengagungkan api
Api akan selalu kalah oleh air, dapatkah kau mengambil hikmah dari kata-kata ini?

 

copyright 2008 Alif Rafik Khan